Media Massa dan Temperamen Anak

  • Share

Media Massa dan Temperamen Anak

Perkembangan zaman menuntut adanya perubahan dan mobilitas yang tinggi. Perkembangan zaman tak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang. Muncullah berbagai alat dari hasil pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimaksudkan untuk memudahkan dan mempercepat kinerja manusia. Keberadaan media massa, terutama televise tidak lepas dari kehidupan sehari-hari kita.
Televisi adalah suatu media massa yang menyuguhkan tampilanmelalui bentuk audio visual (suara dan gambar). Karena dapat dinikmati dalam bentuk suara dan gambar gerak sekaligus itulah orang lebih tertarik kepda televisi daripada media massa lainnya.
Pada zaman sekarang ini, televisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasi secara cepat dan mampu mencapai pemirsa dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditampilkan telah mampu menarik minmat pemirsanya , dan mampu membius pemirsanya untuk selalu manyaksikan berbagai tayangan yang disiarkan televisi. Mulai dari infotainment, entertainment, iklan, hingga sinetron dan film-film yang sesungguhnya tidak pantas ditayangkan.
Kehadiran televisi sesungguhnya telah menimbulkan berbagai fenomena. Televisi memang mampu menayangkan acara-acara yang begitu menarik karena telah ditambahi dengan aksesori-aksesori sehingga membuat pemirsanya begitu mengagumi televisi. Walaupun tanpa mereka sadari, televisi mampu mengubah mereka sedikit demi sedikit. Segala sesuatu diciptakan pasti ada dua dampak yang mengiringinya, yaitu dampak negatif dan positif. Begitu pula dengan hadirnya televisi. Dengan adanya media massa elektronik ini, banyak sekali manfaat yang dapat diambil.
Dengan menyaksikan televisi, seseorang dapat memperoleh informasi-informasi aktual yang terjadi dimanapun secara cepat dan lebih jelas. Selain itu, televisi juga mempermudah suatu perusahaan atau badan usaha untukmempromosikan produk-produknya . 
Namun televisi juga mempunyai dampak negatif dalam kehidupan. Hal ini sangat terasa pada anak-anak yang jiwanya masih sangat labil dan masih dalam proses pencarian jati diri. Anak-anak ibarat kertas kosong yang dapat dengan mudah digambari sesuka hati. Apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan sering mereka telan mentah-mentah. Televisi dan anak adalah dua komponen yang sangat sulit dipisahkan. Anak-anak adalah penggemar nomor satu media televisi. Rata-rata anak menggunakan hampir sebagian besar waktunya untuk menonton acara televisi, tanpa memikirkan pantaskah acara yang sedang mereka tonton saat itu. Padahal anak adalah usia yang rentan. Mereka belum dapat menentukan yang baik dan yang buruk. Mereka biasa meniru atau mengimitasi kebiasaan yang sering mereka temui.
Sebagai media audio visual, TV mampu merebut 94% saluran masuknya pesan – pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. TV mampu membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar dilayar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan ingat 85% dari apa yang mereka lihat di TV setelah 3 jam kemudian dan 65% setelah 3 hari kemudian. Dengan demikian terutama bagi anak-anak yang pada umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat, tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap anak tesebut akan mengikuti acara televisi yang ia tonton. Apabila yang ia tonton merupakan acara yang lebih kepada edukatif, maka akan bisa memberikan dampak positif tetapi jika yang ia tonton lebih kepada hal yang tidak memiliki arti bahkan yang mengandung unsur-unsur negatif atau penyimpangan bahkan sampai kepada kekerasan, maka hal ini akan memberikan dampak yang negatif pula terhadap perilaku anak yang menonton acara televisi tersebut.

Temperamen
Temperamen adalah gaya-perilaku karakteristik individu dalam merespon. Ahli-ahli perkembangan sangat tertarik mengenai temperamen bayi. Sebagian bayi sangat aktif menggerak-gerakkan tangan, kaki dan mulutnya dengan keras, sebagian lagi lebih tenang, sebagian anak menjelajahi lingkungannya dengan giat parta vvaktu yang lama dan sebagian lagi tidak demikian. Slebagian bayi merejpons orang Iain dengan hangat, sebagai lagi pasif. Gaya-gaya perilaku tersebut menunjukkan temperamen seseorang.
Menurut Thomas Chess (1991) ada tiga tipe dasar temperamen yaitu mudah, sulit, dan lambat untuk dibangkitkan:
a. Anak yang mudah umumnya mempunyai suasana hati yang positif dandapat dengan cepat membentuk kebiasaan yang teratur, serta dengan mudah pula menyesuaikan diri dengan pengalaman baru.
b. Anak yang sulit cenderung untuk bereaksi secara negatif serta seringmenangis dan lambat untuk menerima pengalaman-pengalaman baru.
c. Anak yang lambat untuk dibangkitkan mempunyai tingkat kegiatan yangrendah, kadang-kadang negatif, dan penyesuaian diri yang rendah dengan lingkungan atau pengalaman baru.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa keturunan mempengaruhi temperamen. Tingkat pengaruh ini bergantung pada respons orang tua terhadap anak-anaknya dengan pengalaman-pengalaman masa kecil yang ditemui dalam lingkungan.

Pengaruh Televisi
Televisi merupakan media massa elektronik yang sangat digemari oleh masyarakat. Karena televisi menyampaikan informasi melalui suara dan gambar sekaligus. Televisi dengan berbagai acara yang ditayangkannya mampu menarik minat pemirsanya dan membuat pemirsanya terbius untuk selalu menyaksikan acara-acara yang ditayangkan. Dengan berbagai acara yang ditayangkan seperti sinetron, entertainment, infotainment, iklan, dan sebagainya.
Televisi hadir sebagai sarana untuk hubungan dan komunikasi antar manusia. Sebenarnya televisi memiliki beberapa fungsi, yaitu :

Fungsi rekreatif
Pada dasarnya fungsi televisi adalah memberikan hiburan yang sehat kepada pemirsanya, karena manusia adalah makhluk yang membutuhkan hiburan.

Fungsi educatif
Selain untuk menghibur, televisi juga berperan memberikan pengetahuan kepada pemirsanya lewat tayangan yang ditampilkan.

Fungsi informatif
Televisi dapat mengerutkan dunia dan menyebarkan berita sangat cepat. Dengan adanya media televisi manusia memperoleh kesempatan untuk memperoleh informasi yang lebih baik tentang apa yang terjadi di daerah lain. Dengan menonton televisi akan menambahkan wawasan.
Ironisnya kini yang sering kita jumpai, acara-acara televisi lebih mementingkan pada fungsi informatif dan rekreatif saja, sedangkan fungsi educatif yang merupakan fungsi yang sangat penting untuk disampaikan sangat jarang ditemui.
Anak-anak dan televisi adalah dua komponen yang susah dipisahkan. Mereka adalah perpaduan yang sangat kuat. Tak banyak hal lain dalam kebudayaan manusia yang mampu menandingi kemampuan televisi dalam menyentuh anak-anak dan mempengaruhi cara berpikir serta perilaku mereka.
Begitu pula minat mereka dengan televisi. Mereka menganggap televisi lebih menyenangkan dari pada belajar dan mendengarkan nasehat orang tua. Mereka merasa terlayani dengan adanya televisi. Dengan adanya televisi anak-anak akan melupakan kesulitannya, dengan adanya televisi mereka gunakan untuk mengisi waktu, mempelajari sesuatu, memberikan rangsangan, bersantai, mencari persahabatan dan sekedar kebiasaan. Kebiasaan menonton televisi bagi anak sebenarnya kurang baik. Banyak sekali tayangan yang disajikan oleh stasiun televisi yang tidak mendidik. Bahkan tak jarang ditemui acara-acara yang berbahaya bagi anak. Sering sekali ditayangkan dalam televisi acara yang berbau kekerasan, adegan pacaran yang mestinya belum pantas ditonton oleh anak, tidak hormast kepada orang tua, gaya hidup yang hura-hura.
Konflik dengan orang tua, perkelahian sesama anak, dan kejahatan remaja ternyata erat hubungannya dengan jumlah jam menonton televisi. Bagi anak yang sejak usia dini telah menonton tayangan mistis, kelak akan tumbuh menjadi orang yang penakut dan dan ia akan mengambil keputusan berdasarkan emosi. Menonton televisi juga dapat mengurangi kemampuannya untuk menyenangkan diri sendiri dan melumpuhkan kemampuannya untuk mengemukakan pendapatnya secara logis dan sensitif.
Dibawah ini dicantumkan data mengenai fakta tentang pertelevisian Indonesia : Tahun 2002 jam tonton televisi anak-anak 30-35 jam/hari atau 1.560 – 1.820 jam/tahun, sedangkan jam belajar SD umumnya kurang dari 1.000jam/tahun.85% acara televisi tidak aman untuk anak, karena banyak mengandung adegan kekerasa, seks dan mistis yang berlebihan dan terbuka.
saat ini ada 800 judul acara anak, dengan 300 kali tayang selama 170jam/minggu padahal satu minggu hanya ada 24 jam X 7 hari = 168 jam. 40 % waktu tayang diisi iklan yang jumblahnya 1.200 iklan/minggu, jauh diatas rata-rata dunia 561 iklan/minggu.
Berdasarkan data diatas, dapat dibayangkan apabila anak-anak yang merupakan aset-aset bangsa yang akan meneruskan perjuangan bangsa ini serta yang akan memajukan bangsa ini, sejak kecil telah terbiasa dengan hal yang tidak bermanfaat, maka negara ini yang sudah tertinggal dan terpuruk ini akan semakin terpuruk dan tertinggal dan akhirnya akan menjadi negara yang akan di lecehkan oleh negara lain. Inilah fakta yang bukan hanya untuk kita perhatikan tetapi perlu dilakukan tindakan nyata untuk mengantisipasinya. Yang pastinya diperlukan satu-kesatuan tekat dalam setiap diri orang tua dan anggota masyarakat untuk bisa mengatisipasi dampak yang akan terjadi serta bisa menjadi kontrol bagi pihak penyiar televisi terhadap acara-acara yang ditayangkan oleh setiap stasiun televisi.
Jika kita kaji lebih jauh, dampak negatif dari menonton televisi berlebihan yaitu:
1.      Anak 0–4 tahun, menggangu pertumbuhan otak, menghambat pertumbuhan berbicara, kemampuan herbal membaca maupun maupun memahaminya, menghambat anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan.
2.      Anak 5-10 tahun, meningkatkan agresivitas dan tindak kekerasan, tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan. Anak kecil belum mampu membedakan dunia yang ia lihat di TV dengan kenyataan yang sebenarnya. Seorang anak kecil belum dapat mengenal dan mengetahui apakah itu acting, efek film, atau tipuan kamera. Bagi mereka, dunia di luar rumah adalah dunia seperti yang mereka lihat di televisi.
3.      Berperilaku konsumtif karena rayuan iklan. Iklan merupakan salah satu bentuk promosi untuk menawarkan produk kepada masyarakat. Sekarang ini semakin banyak iklan yang menawarkan berbagai produk dari mainan anak, jajanan, minuman, dan sebagainya. Iklan-iklan tersebut memberikan janji yang sangat menarik bagi sebagian besar anak. Sehingga anak selalu berusaha memiliki produk yang ditawarkan oleh iklan tersebut.
4.      Mengurangi kreativitas, kurang bermain dan bersosialisasi, menjadi manusia individualis dan sendiri. Saat menonton televisi, anak kurang beraktivitas, hanya duduk di depan televisi dan melihat apa yang ditayangkan televisi. Baik secara fisik maupun mental, anak menjadi pasif. Kemampuan berpikir dan kreativitas anak tidak terasah, karena ia tidak perlu membayangkan atau berimajinasi layaknya ketika ia sedang membaca buku atau mendengar musik. Kecanduan menonton TV akan bermasalah ketika ini mengakibatkan anak menjadi tidak bermain ke luar rumah dengan lingkungan sekitar. Ia menjadi tidak bersosialisasi da dunianya tidak bertambah luas.
5.      Televisi menjadi pelarian dari setiap keborosan yang dialami, seolah tidak ada pilihan lain.
6.      Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan) kaena kurang berkreativitas dan berolahraga. Menonton televisi kebanyakn merupakan kegiatan yang pasif dimana anak hanya duduk, melihat dan mendengarkan. Hal ini tidak menutup kemungkinan anak dapat menjadi gemuk karena mereka biasanya menonton televisi disertai dengan makan cemilan.
7.      Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga, waktu berkumpul dan bercengkrama dengan anggota keluarga tergantikan dengan nonton TV, yang cenderung berdiam diri karena asyik dengan jalan pikiran masing-masing
8.      Matang secara seksual lebih cepat. Asupan gizi yang bagus, adegan seks yang sering dilihat menjadikan anak lebih cepat matang secara seksual, ditambah rasa ingin tahu pada anak dan keinginan untuk mencoba adegan di TV semakin menjerumuskan anak.
9.      Penambahan kosakata pada anak. Anak cenderung meniru adegan atau ucapan yang sering mereka jumpai di televisi. Padahal saat ini banyak sekali bahasa dan umpatan yang tidak disensor dan ditirukan oleh anak. Ironisnya, bahasa dalam film atau sinetron malah dijadikan trend.
Saat ini, anak bukan hanya menjadi penikmat televisi, tetapi juga menjadi pemeran dalam tayangan di televisi. Marak sekali film atau sinetron yang menjadikan seorang anak kecil menjadi pemeran utama. Anak kecil yang seharusnya masih bermanja-manja pada orang tua dan bermain malah dipaksa untuk berakting siang malam. Banyak kata-kata dan adegan-adegan yang seharusnya belum dapat diterapkan kepada anak usia tersebut. Hal ini sangat berpengaruh pada perkembangan anak di kemudian hari.
Upaya Meminimalisasi  
Orang tua adalah sosok yang sangat penting dalam perkembangan anak. Orang tua adalah guru terpenting bagi anak-anak. Mereka harus mampu memberikan yang terbaik untuk anaknya. Hal sekecil apapun harus diantisipasi oleh orang tua mengenai dampak positif dan negatif yang dapat diterima anak. Begitu juga dengan adanya televisi yang bukan hanya memberikan dampek positif, namun juga dampak negatif. Untuk menghindari dampak negatif dari televisi bukan dengan cara membuang dan menjauhkan anak dari televisi. Hanya saja perlu pengontrolan dari orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan anak. Sebagaimana kata Kahlil Gibran kalau orang tua itu adalah busur dari anak panah kehidupan putra-putrinya untuk melesat ke masa depan. Karena anak-anak juga mendambakan kehidupannya sendiri.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi pengaruh buruk media televisi terhadap perkembangan anak, khususnya yang harus diperhatikan oleh orang tua, antara lain :
1.      Orang tua harus dapat memilih acara yang sesuai dengan usia anak. Jangan biarkan anak menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya. Walaupun ada acara yang memang untuk anak-anak, perhatikan dan analisa apakah sesuai dengan anak-anak. Maksudnya tidak ada unsur kekerasan atau hal lain yang tidak sesuai dengan usia mereka.
2.      Orang tua sebaiknya mendampingi anak saat menonton televisi. Tujuannya adalah agar acara televisi yang ditonton oleh anak dapat terkontrol dan orangtua dapat memperhatikan apakah acara tersebut layak ditonton atau tidak. Orangtua juga dapat mengajak anak membahas apa yang ada di televisi dan membuatnya mengerti bahwa apa yang ada di televisi tidak tentu sama dengan kehidupan yang sebenarnya.
3.      Orang tua harus mengetahui acara favorit anak dan bantu anak memahami pantas tidaknya cara tersebut mereka tonton , ajak mereka menilai karakter dalam acar tersebut secara bijaksana dan positif.
4.      Orangtua sebaiknya tidak meletakkan televisi di kamar anak. Selain untuk mempermudah orangtua mengontrol tontonan anak, juga tidak membuat aktivitas yang seharusnya dilakukan di kamar seperti tidur dan belajar menjadi terganggudan beralih ke televisi.
5.      Ajak anak untuk melekukan banyak aktivitas lain selain hanya menonton televisi. Orangtua dapat mengajak anak keluar rumah untuk menikmati alam dan lingkungan, bersosialisasi secara positif dengan orang lain. Orang tua juga dapat memperkenalkan dan mengajarkannya suatu hobi baru.
6.      Anak untuk memperbanyak membaca buku yang bermanfaat. Letakkan buku di tempat yang mudah dijangkau anak, ajak anak ke toko buku atau perpustakaan.
7.      Perbanyak anak mendengar radio atau mendengar musik sebagai pengganti menonton televisi.
8.      Periksalah jadwal acara televisi, sehingga orangtua dapat mengatur acara apa yang akan ditonton bersama anak. Dengan mencari dan melihat resensi atau ulasan mengenai film atau acara tersebut orangtua akan tahu garis besar isi acara tersebut sehingga dapat menentukan pantas tidak acara tersebut disaksikan.
9.      Orangtua harus membiasakan anak tidak menonton televisi di hari-hari sekolah. Ini dimaksudkan untuk menghindari kurangnya waktu belajar anak karena terlalu banyak menonton acara televisi. Di sini orangtua harus member contoh dengan tidak banyak menonton televisi. Jika anak melihat orangtuanya sering menonton televisi sedangkan ia tidak diperkenankan tentu anak akan menganggap itu tidak adil.
10.  Orangtua harus membekali anak dengan pendidikan yang mengandung nilai-nilai agama yang harus selalu diterapkan dan ditumbuhkan di rumah dengan cara mengikutsertakan anak ke suatu pendidikan keagamaan di luar jam sekolah, agar anak-anak mampu berpikir jernih, punya rencana dan masa depan yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar